Ganti Bahasa / Change your language

Donatur


Bank Central Asia. Account No : 8710069434
KCP Gading Riviera. A/N : Noviyan Yogyantoro


Yayasan Hati Nurani. Semoga Allah memberi ganti yang lebih banyak. AMIN
Tampilkan postingan dengan label RenunGan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RenunGan. Tampilkan semua postingan

7 ALASAN UNTUK TIDAK MENJADIKAN ADZAN DAN BACAAN AL-QUR’AN SEBAGAI RINGTONE HP


umumnya orang cenderung mudah menilai orang lain dari aksesoris yg dikenakannya, misalnya ketika melihat seseorang yang ringtone (nada dering) HPnya lagu dangdut maka dalam benak kita akan berkata; Dasar ini anak…, mentalnya mental dangdut, dasar fansnya Dewi Persik (ups…) dll yang tidak baik.

Sebaliknya kalau ada orang yang ringtone Hpnya suara adzan atau bacaan al-Qur’an yang indah, maka kita akan menilai; Subhanallah…., inilah “orang yang shalih” yang sangat mencintai al-Qur’an, anak shalih yang tidak bisa berpisah dari al-Quran, masya Allah….

Padahal jika ditinjau dari dalil maka kita akan dapati menjadikan lagu dangdut sebagai ringtone itu sebenarnya jauh lebih mulia dan lebih baik dibandingkan menjadikan adzan atau bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an sebagai ringtone, mengapa ?


Sebab ringtone adalah alat untuk memberi tahu kepada kita bahwa ada seseorang yang sedang menelphon, maka dengan sendirinya kita akan segera mngaktifkan HP yang juga berarti menghentikan bacaan al-Qur’an atau adzan tersebut, ini adalah perbuatan yang tercela,sebab;

1. Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman ibadah (QS. Al-Baqarah : 2) bukan untuk yang lain apalagi ringtone.
2. Ketika Al-Qur’an dibaca maka kita diwajibkan untuk mendengarkan dan memperhatikannya agar kita dirahmati (QS. Al-A’raf : 204) bukan malah mematikannya.
3. Orang iman ketika dibacakan al-Qur’an maka hatinya akan bergetar dan merasa takut (kepada Allah) serta bertambah keimanannya (QS. Al-Anfal : 2) dan hal ini tidak akan terwujud jika berupa ringtone karena belum sempurna dibaca sudah kita hentikan.
4. Membuat bacaan al-Qur’an waqaf (berhenti) pada posisi “waqaf qabih” (waqaf yang jelek karena kalimat belum sempurna diucapkan sudah dihentikan, contohnya; ringtone baru berbunyi Bismil…(dari kalimat Bismillah), sudah kita putus ini sesuatu yg diharamkan oleh para ahli Tajuid.
5. Adzan dikumandangkan hanya untuk memberi tahu telah tiba saatnya shalat, sehingga kita harus segera berwudhu dan datang ke Masjid, bukan untuk didengar kemudian diputus.
6. Ketika adzan dikumandangkan kita disunnahkan untuk memperhatikan dan mengulangi ucapan muadzin, hal ini mustahil kita lakukan jika berupa ringtone.
7. Terkadang kita berada di toilet sedang buang hajat sedangkan kita lupa mematikan atau silentkan HP kita sehingga di dalam Toilet dibacakan ayat suci al-Qur’an atau dikumandangkan adzan, suatu perbuatan yang amat tercela.
Bagaimana Komentar Anda? Apakah Anda Sependapat dengan artikel ini...???

Sumber : Ihsan Muhyiddin - facebook

Tips Menghadapi Debt Collector


Bila kartu kredit Anda bermasalah, dan Anda mendapat kunjungan dari Debt Collector, maka Anda tidak perlu panic, tenang saja dan rileks. Berikut tips untuk Anda dalam menghadapi Debt Collector:
Jika Debt Collector datang ke rumah:
1. Bersikap tenang dan santai
2. Jangan takut karena debt collector tidak akan berani melakukan pemukulan. Jika terjadi, maka Anda berhak untuk membalasnya apalagi itu terjadi di rumah Anda sendiri. Alasannya tamu tersebut sudah berniat tidak baik datang ke rumah Anda.
3. Laporkan ke satpam / hansip perumahan Anda jika terjadi hal yang kurang menyenangkan sehingga debt collector tersebut bisa diusir paksa dari rumah Anda.
4. Jika sudah tidak bisa membayar, bilang saja terus terang, misalnya seperti ini: “Saya sudah tidak sanggup bayar full (biasanya sudah membengkak dari limit). Saya minta stop bunga tapi saya punya itikad baik untk melunasi. Jika ada keringanan saya mau ikut dengan cicilan Rp 50.000/per bulan kalau tidak bisa ya sudah saya tunggu aja surat pengadilan (perdata). Biarlah nanti hakim pengadilan yang menentukan kesanggupan kita untuk membayarnya.
5. Kalau Anda diteror lewat telepon, tanyakan nama penelepon, jika perlu Anda memasang caller ID pada telepon rumah dan rekam pembicaraan. Apabila debt collector tersebut melakukan ancaman maka laporkan ke polisi berikut bukti-bukti rekaman tadi.
Jika Debt Collector datang menagih di kantor


1. Temui debt kolector tersebut, apabila dia tetap ngotot atau tidak ada penyelesaiannya maka lebih baik tiggalkan saja dan panggil satpam untuk menyuruh keluar orang tersebut. Biasanya mereka ngotot untuk menunggu sampai kita jengah melihatnya dan malu sehingga lebih baik laporkan ke bagian keamanan karena mereka tamu yang tidak pantas.
2. Cara-cara licik dan tidak tepuji biasanya dilakukan debt collector dengan menelepon pimpinan Anda, bagian HRD, atai rekan-rekan Anda dengan tujuan mempermalukan Anda kalau memiliki hutang pada Citibank dan berharap Anda segera melunasinya. Telepon ini dilakukan hampir sepanjang hari karena memang tugas mereka.
3. Apabila mereka melakukan pemukulan maka Anda wajib minta vsum ke RS terdekat sebagai bukti untuk melaporkan ke polisi agar debt collector (dibaca: bangsat) bisa dijerat dengan pasal-pasal penganiayaan.
4. Apabila Anda dibantu untuk menyelesaikan proses tunggakkan dengan cara mengangsur per bulan, maka sebaiknya pembayaran tetap Anda lakukan lewat ATM ke nomor Kartu Kredit Anda. Hal ini sebagai bukti dan jangan pernah memabayar tunai ke debt collector.

Bagaimana Menurut Anda?

Hard on Yourself, "should be ..."


If we are "hard" on yourself, then life would be "soft" on us
But if we are "soft" on yourself, then life would be "hard" on us.

If there are athletes during exercise did not want to train with loud aka soft on yourself, then obviously the game when he was not ready, so it can be defeated, even mocked by his opponent. The same is true also with our lives.
Against ourselves, we must dare to act tough, for example, by discipline, practice, and work hard. This clearly makes our lives become easier to achieve success and success. Conversely, if we are soft on yourself, then life becomes hard, because we will face a lot of failure, defeat, and disappointment.

So if we want to succeed, then let us down on our lives today, and make it as a habit. For example if every time we do discipline, then over time it became a habit and if we do not discipline, the self we feel there is a strange thing.
The choice is in our own hands; want hard or soft in this life? Obviously to be successful, we need to be hard on yourself.
What do you think? give your best comment ... please
 

Please pay HSBC VISA credit card bills with the card number 4544 9311 0486 7743 on behalf of Noviyan Yogyantoro. I really appreciate it regardless of its value ... Thanks.

Antara Cinta dan Pernikahan


Suatu hari, ada seorang murid bertanya pada gurunya. “Apa itu cinta? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah …menemukan cinta”. Murid pun berjalan dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”, Murid menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik) ,sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasannya ranting-ranting yang kutemui tak sebagus ranting yang kutemui sebelumnya tadi, jadi tak kuambil seranting pun akhirnya”. Gurunya kemudian menjawab “Ya, itulah CINTA”.


Di hari yang lain, murid bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu pernikahan? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan”.

Murid pun berjalan, dan tidak seberapa lama murid pun kembali dengan membawa pohon, pohon tersebut bukanlah pohon yang besar & subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti ini?” Murid pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi, kali ini kuputuskan untuk menebang pohon ini dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”. Gurunya kemudian menjawab, “Ya, itulah PERNIKAHAN!”.

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika pengharapan dan keinginan yang berlebihan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Pernikahan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses memanfaatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, ketika kesempurnaan ingin kita dapatkan, maka sia-sialah waktu dalam mendapatkan pernikahan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna.
sumber: warga LDII.com

FILSAFAT BOLAK-BALIK

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan
Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara.
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.
Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress…,takut kalah kaya sama yg lain)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (kecapekan kerja…,nggak punya waktu mikir yg aneh2)
Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu.
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit.
Masih muda, pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan,
Udah kaya, gak punya waktu buat nikmatin kekayaan.
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan,
udah keburu tua gak ada tenaga…
Bersyukurlah dan nikmati apa yang sudah kita dapat !!

FILSAFAT BOLAK-BALIK

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan
Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara.
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.
Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress…,takut kalah kaya sama yg lain)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (kecapekan kerja…,nggak punya waktu mikir yg aneh2)
Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu.
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit.
Masih muda, pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan,
Udah kaya, gak punya waktu buat nikmatin kekayaan.
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan,
udah keburu tua gak ada tenaga…
Bersyukurlah dan nikmati apa yang sudah kita dapat !!

KARET GELANG

Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, Satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada.
Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan.Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa. Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.
Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi. Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah, Kemampuan dia memang sangat terbatas.
Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.
Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.
Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.
Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

TATA KRAMA BERPAKAIAN DAN BERHIAS





Seringkali sebagai umat islam meremehkan tentang berpakaian dan berhias, ada anggapan “Ah yang menting Sholat pokoknya”, Sebagai gambaran lain dalam kehidupan sehari-hari, bila kita interview dengan perusahaan yang Bonafit, seringkali berpakaiannya lebih bagus, pakai minyak wangi, rambut disisir rapi. Mengalahkan adabnya bila kita sholat, salah satu contohnya selesai main bola keringatan pas dengar adzan langsung ganti pakaian trus sholat, dimana letak mengagungkan Allah ? disini penulis coba menjelaskan tata karma berpakaian dan berhias dengan sumber Qur’an dan Hadits yang jelas, semoga bermanfaat.



Bagi Laki-laki

Berpakaian rapi, sopan dan benar menurut syariat Islam. (HR. Abu Daud menerangkan bawah pakaian tidak dibawah mata kaki/nglembreh)
*** 
Tidak boleh memakai kain Sutera. (HR Tirmidzi)
*** 
Tidak boleh memakai celana yang dilubangi/disobek-sobek, ketat dan ditempeli stiker.
*** 
Tidak boleh berpakaian menyerupai wanita. (HR Bukhori)
*** 
Tidak boleh memakai perhiasan emas. (HR Tirmidzi)
*** 
Tidak mewarnai rambut dengan warna hitam
*** 
Tidak mewarnai rambut dengan warna yang tidak pantas
*** 
Memotong rambut dengan rapi. (HR Abu Daud)
*** 
Merapihkan kumis. (HR Bukhori dan HR Muslim)
*** 
Disunahkan memakai minyak wangi. (HR Abu Daud)


Bagi Perempuan

Berpakaian rapi, sopan dan benar menurut syariat Islam. (QS. An-Nur ayat 31, QS Al Azhab ayat 59, HR Muslim dan HR Abu Daud)
*** 
Tidak boleh berpakaian menyerupai laki-laki. (HR Bukhori)
*** 
Tidak boleh memakai rambut palsu dan atau yang memasangkan rambut palsu. (HR Bukhori)
*** 
Tidak boleh mencukur gundul. (HR Nasa’i)
*** 
Tidak boleh memotong rambut kepala sehingga menyerupai laki-laki. (HR Bukhori)
*** 
Tidak boleh mencukur alis. (HR Bukhori)
*** 
Tidak berdandan/bersolek secara berlebihan.
*** 
Tidak boleh memakai wangi-wangian yang semerbak baunya. (HR Abu Daud)

MENDAPATKAN PASANGAN YANG SHALIH & SHALIHAH


Harapan dan impian setiap pemuda atau pemudi yang memasuki usia pernikahan adalah memperoleh suami shalih atau istri shalihah, walaupun standar shalih mungkin berbeda antara satu orang dengan yang lain, menurut A mungkin si dia shalih, belum tentu menurut B demikian, akan tetapi bagaimanapun keduanya sepakat berharap yang shalih dalam urusan pasangan hidup, perkara ini hampir tidak diperselisihkan oleh dua orang, karena ia termasuk perkara mendasar dalam bangunan dan tatanan rumah tangga yang akan diarungi oleh suami istri.


Keshalihan suami istri adalah modal dasar yang tidak bisa ditawar dalam menciptakan rumah tangga yang kata orang, sakinah, mawaddah wa rahmah, ini tidak keliru sebab realita memang membuktikan demikian, sementara perkara-perkara selainnya hanya sebatas menunjang dan melengkapi yang tidak berarti tanpa adanya keshalihan. Apalah artinya ketampanan atau kecantikan tanpa keshalihan? Bisakah ia menjadikan rumah tangga tegak kokoh tanpanya? Apalah artinya harta melimpah jika tidak dibarengi dengan keshalihan? Bisa-bisa ia malah menjadi sebab petaka dan sengsara. Jabatan atau kedudukan? Setali tiga uang, tidak berbeda.

Menikah bukan untuk sesaat dua saat akan tetapi untuk masa masya Allah, walaupun ada pintu keluar darinya dengan talak dan khulu’, akan tetapi pintu ini bersifat dharurat, tidak patut dibuka dalam kondisi lapang, dan dalam perjalanan pernikahan tidak jarang terjadi rintangan dan sandungan, naik turun, senang susah, sedih gembira, semuanya terjadi, hanya keshalihan yang bisa membimbing suami dan istri untuk menyikapi semua itu dengan bijak yang pada akhirnya membawa kepada kebaikan bagi mereka berdua.

Dari sini maka Rasulullah saw mengajak kaum muslimin agar mengedepankan keshalihan dalam memilih suami atau istri, walaupun ada faktor-faktor lain yang tidak keliru jika diperhatikan, akan tetapi perkara yang satu ini adalah yang terdepan, beliau bersabda kepada siapa pun yang berminat menikah,


تُنْكََحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ ، تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, pilihlah pemilik agama niscaya kamu beruntung.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Kepada para wali sebagai pemegang hak menikahkan, Rasulullah saw bersabda, “Jika orang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya melamar kepadamu maka nikahkanlah dia.” (Shahih at-Tirmidzi 3/305).

Setelah Anda sepakat mengedepankan keshalihan dalam perkara ini maka pertanyaan yang mungkin terbersit adalah bagaimana mendapatkan suami atau istri yang demikian?

Jawabannya mudah, hanya dengan sebuah langkah dasar yaitu jadikan diri Anda shalih terlebih dulu, hanya ini yang Anda perlukan. Sesederhana inikah teorinya? Benar. Penjelasannya begini.

Fakta umum yang berjalan dalam kehidupan ini adalah bahwa sesuatu cenderung kepada yang sepadan dan sesuai dengannya, begitu pula sebaliknya, sesuatu akan menghindar dari yang berbeda dengannya, semakin banyak dan besar titik-titik kesepadanan dan kesesuaian antara dua perkara atau antara dua orang, semakin dekat dan intens kecenderungan antara keduanya dan semakin besar perbedaan antara dua orang, semakin lebar jarak dan jurang di antara keduanya. Mudah saja, coba Anda melihat lembu, ia akan berkawan dan dekat kepada sesama lembu, karena titik kecocokan yang demikian besar di antara mereka, domba berkumpul dengan kawanannya dan begitu seterusnya. Anda melihat kerbau bergaul dengan ayam? Mengapa? Karena adanya titik perbedaan yang besar. Yang ingin penulis katakan bahwa kecenderungan dan kedekatan di awali dengan perasaan adanya kesamaan dan kesesuaian.

Setelah itu tariklah kesimpulan ini ke dalam alam pergaulan manusia, Anda melihat bahwa ternyata manusia cenderung kepada manusia yang memiliki sisi-sisi kesamaan dengan dirinya dan menjauh dari manusia yang memiliki titik perbedaan dengan dirinya. Para penggemar sepak bola berkumpul dengan sesama penggemar sepak bola, para penggemar hobi A berkumpul dengan sesamanya dan begitu seterusnya, sehingga terbentuk klub-klub, organisasi-organisasi, perkumpulan-perkumpulan, partai-partai atau apalah namanya, di mana titik kesamaanlah yang mendorong mereka ke sana. Lihatlah kepada diri Anda, dengan siapa Anda cenderung? Tidak keliru kan apa yang penulis katakan?

Jadi pada saat Anda menjadikan diri sebagai orang yang shalih berarti secara otomatis Anda telah memiliki password untuk masuk ke dalam lingkaran orang-orang shalih dan mempunyai titik kesamaan dengan mereka serta mempunyai peluang besar untuk menjadi bagian dari mereka dengan mendapatkan salah seorang dari mereka. Dan Anda perlu tahu bahwa dari semua perkara yang mengumpulkan dan menyatukan kawanan manusia dengan sesama, yang paling kuat adalah kebaikan atau keshalihan. Selainnya hanya bersifat temporal, orang-orang yang disatukan karena harta misalnya, akan bubar seiring dengan lenyapnya harta, orang-orang yang dikumpulkan karena kesenangan, akan buyar seiring dengan berubahnya kesenangan. Tetapi orang-orang yang diikat oleh keshalihan akan selalu terikat sekuat keshalihan itu sendiri.

Kebaikan berjodoh dengan kebaikan, orang-orang yang baik berjodoh dengan orang-orang yang baik, keburukan berdampingan dengan keburukan, orang-orang yang buruk berkawan dengan orang-orang buruk, ini sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan.

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (An-Nur: 3).

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nur: 26).

Dalam sejarah pernikahan kita melihat orang yang paling shalih Muhammad saw, para pendampingnya adalah para wanita shalihah, kita melihat putri-putri beliau yang shalihah berjodoh dengan para suami yang shalih pula, para sahabat-sahabat beliau yang shalih beristri wanita-wanita yang sepadan dan selevel dengan mereka dan begitu seterusnya. Maka jika Anda berhasrat memperoleh pasangan yang shalih, shalihkan diri Anda agar hasrat Anda ini terwujud sehingga Anda tidak menggantang asap, layaknya pungguk merindukan rembulan.

Inilah keadilan dan kebijaksanaan, dua perkara yang sejenis tersatukan, dua hal yang sepadan terkumpul dan dua orang yang shalih dipertemukan.

Gadis





Maya, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Maya, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Maya, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya. Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

Maya, kamu cantik sekali

Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang?Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai Maya. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.

Maya, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?

Maya, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.

Maya, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan mahrommu
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.

Berlian Penyesalan






Tiga orang pemuda, sedang mencari kayu di gunung, kemudian tiba-tiba turun hujan yang sangat deras, lalu mereka melihat sebuah goa...


“Hai lihat! Ada goa! Ayo kita berteduh di sana!” teriak Rohmat pada kedua temannya. Tak lama kemudian ketiga pemuda itu sudah berada di dalam gua yang sangat gelap. Mereka tidak bisa melihat apapun di sekelilingnya, seakan-akan mata mereka buta karena sangat gelapnya gua itu.

“Rohmat! Kamu di mana?” teriak Romli.

“Aku di sini! Kamu di mana? Mana Rosyid?” Tanya Rohmat.

“Aku di sini bersama Romli” kata Rosyid.

“Kita jangan berpencar!” pinta Rohmat.

“Iya! Kita harus tetap bersama” kata keduanya. Mereka berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba mereka menginjak benda–benda halus, licin seperti kerikil.

“Hai! Kakiku menginjak sesuatu” kata salah satu diantara mereka.

“Aku juga. Benda apa ini?” sahut yang lain.

“Seperti batu kerikil tapi terasa lebih halus” kata yang lain lagi. Bersamaan dengan itu mereka dikejutkan oleh suara yang menggema, sehingga terdengar jelas keseluruh ruangan goa.

“Siapa yang mengambil benda itu, akan menyesal”.

“Siapa yang tidak mengambil juga akan menyesal”.

Dengan penuh konsentrasi mereka mendengarkan suara gaib tersebut. Berulang-ulang suara itu terdengar dan akhirnya lama kelamaan menghilang.

Rohmat, Rosyid dan Romli mengernyitkan dahi memikirkan apa arti suara gaib itu. “Apakah yang akan diambil? Ada apakah di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi yang mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.

Rohmat berkata dalam hati ”Kalau aku ambil, aku akan menyesal, kalau tidak aku juga menyesal.. Ah.. ambil saja yang banyak”. Rohmat memenuhi semua kantong baju dan celananya dengan benda itu.

Sementara Rosyid berpikir, “Kalau aku ambil aku akan menyesal, kalau tidak, aku juga akan menyesal… Hmm aku akan ambil segenggam sajalah”.

Sedangkan Romli berpendapat lain “Ambil akan menyesal, tidak ambil juga akan menyesal, sama-sama menyesal, lebih baik aku tidak ambil saja”.

Ketiga pemuda itu diam membisu, mereka sangat ketakutan.

“Romli! Rosyid! Kenapa tiba-tiba aku menjadi takut?” kata Rohmat.

“Aku juga!” kata keduanya serempak.

“Bagaimana kalau kita lari keluar!” ajak Rohmat.

“Aku setuju. Lebih baik kehujanan daripada kita mati ketakutan di dalam goa!” kata Rosyid.

“Tunggu apa lagi! Ayo kita lari sekarang!..” kata Romli.

Ketiga pemuda itu berlari keluar dari goa. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari goa. Dengan nafas terengah-engah, mereka berhenti dan tanpa disadari hujan pun sebenarnya telah reda. Mereka pun teringat pada benda-benda yang mereka ambil dari dalam goa. Mereka ingin melihat benda apa sebenarnya yang telah mereka ambil. Betapa terperanjat mereka demi melihat yang mereka ambil dari dalam goa, ternyata butiran-butiran berlian!

“MasyaAllah.. Ini berlian!” teriak mereka. Rohmat yang seluruh kantong baju dan celananya penuh dengan berlian merasa menyesal, “Waduuuh.! kalau saja aku tahu ini berlian! Aku akan ambil yang lebih banyak lagi. Bila perlu aku buka bajuku untuk mengantongi berlian ini sebanyak-banyaknya!”. Rosyid juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Romli tubuhnya lemas demi melihat kedua temannya memeiliki berlian sedangkan dia tidak memiliki apa-apa, ”Oooooh..! kenapa aku tadi tidak mau ambil barang sedikit pun…!”. Akhirnya Romli pingsan dengan sejuta penyesalan dalam hatinya.

Setelah Romli mulai siuman, ketiganya berunding dan sepakat untuk kembali ke tempat goa itu berada. Romli mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh kedua temannya, dengan harapan jika sampai di dalam goa nanti mereka akan mengambil berlian sebanyak-banyaknya. Tapi setelah sampai di mulut goa, mereka sangat terkejut karena mulut goa sudah tertutup oleh sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya, tetapi sia-sia karena goa sudah tertutup rapat dan tidak dapat dibuka lagi. Akhirnya mereka pulang dengan keadaan menyesal karena tidak memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.

Demikian itulah gambaran pengamalan manusia di dunia dan buah dari pengamalan itu yang kelak akan diperoleh di akherat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Dimana semua manusia pada hari pembalasan akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan oleh Allah begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal, kenapa tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit juga menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya. Goa menggambarkan dunia. Dimana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun yang tidak beramal, sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan goa yang sudah tetutup adalah gambaran dari kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali ke dunia lagi.

Rasulullah SAW telah bersabda: “Setiap orang yang telah mati pasti akan menyesal. Sahabat bertanya, “Mengapa dia menyesal wahai Rasulallah?” Rasulullah menjawab, “Jika dia orang yang beramal baik, akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (sewaktu hidup di dunia). Jika dia orang yang beramal jelek, akan menyesal mengapa tidak bertaubat dan memperbaiki amal jeleknya (sewaktu hidup di dunia). HR. Tirmidzi dan Baihaqi.


Selagi Allah masih memberikan umur kepada kita, marilah kita penuhi dengan amalan-amalan yang baik. Jangan sampai menjadi golongan orang-orang yang menyesal di kemudian hari.

MEWUJUDKAN RUMAHKU SYURGAKU





Wahai wanita mukminah!



Sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang, tempat nan aman-tentram yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, rumah diliputi ketenangan dan kelembutan.


Dengan Sepuluh wasiat ini engkau membuat ridha Tuhanmu, engkau membahagiakan suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu (=kehormatanmu).


Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat


Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah!!


Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”


Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat…!


Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami

Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala).


Wasiat ketiga: Menyatakan ketaatan kepada suami dan bergaul dengan baik


Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”


Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali (tobat).


Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)

Wanita muslimah adalah mereka yang ridha dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Tidak menuntut sesuatu di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu.


Mari kita renungkan bersama:


“Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.”

“Sebaik-baik wasiat wanita adalah Ia berpesan kepada sang suami: “Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”


Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu.


Menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya, termasuk pengaturan yang baik. Seorang Istri harus mampu membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.


Mari kembali kita merenungkan….! kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar. Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana mempelai wanita menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dibuai ayahnya.” (Subhannalloh).


Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya,


Utamanya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengan suami. Wajib bagi seorang isteri untuk menampakkan kecintaan kepada ibu suaminya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah….sepol kemampuan.


Berapa banyak rumah tangga yang bertikai dan berselisih disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya.


Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.


Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam duka cita dan kesedihannya.


Wahai Saudariku…!

Jadilah engkau muslimah seperti Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai kita semua.


Wasiat kedelapan: Bersyukur kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaanya.


Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Maka janganlah meniru wanita yang jika suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang masa (tahun), kemudian ia melihat sedikit kesalahan dari suaminya, ia berkata: “Aku sama sekali tidak melihat kebaikan darimu…”


Mengkufuri kebaikan suami adalah menentang keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.


Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat engkau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya.


Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).


Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya (yang paling pribadi dari diri suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapa pun maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.


Oleh karena itu, wahai saudariku muslimah, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli fatwa) atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.


“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah adalah pria yang bersetubuh dengan istrinya dan istri yang bersetubuh dengan suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menyebarkan rahasia pasangannya.”


Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan .


- Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang yang demikian itu dengan sabdanya:


لا تُبَاشِرُ مَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا


“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya.”


Tahukah engkau mengapa hal itu dilarang?!


Hikmah dari larangan itu adalah kekhawatiran kagumnya suami terhadap wanita yang sedang digambarkan, maka hatinya tergantung dengannya (menerawang membayangkannya) sehingga ia jatuh kedalam fitnah. Menceritakan kebagusan wanita lain kepada suami mengandung akibatkan kerusakan-kerusakan yang tidak terpuji.


- Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan sebagian besar istri ketika suaminya baru kembali dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan enak, ia sudah mengingatkannya tentang kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan dan uang jajan anak-anak. Meskipun suami tidak menolak pembicaraan seperti ini, akan tetapi seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang tepat untuk menyampaikannya.


- Termasuk kesalahan adalah memakai pakaian yang paling bagus dan berhias dengan hiasan yang paling bagus ketika keluar rumah. Tetapi ketika berada di hadapan suami, tidak ada kecantikan dan tidak ada perhiasan.


Istri yang cerdas adalah yang menjauhi semua kesalahan itu.

Kosmetik Alami bagi seorang Wanita Muslimah






Wahai Wanita Muslimah


Agar anda lebih cantik menarik mempesona, ini adalah kosmetik alami tanpa harus beli di warung sebelah :

Tundukan kepala anda sebagai hiasan mata yang akan terlihat bening dan jernih

Oleskan lipstik kejujuran dipipi anda yang akan terlihat semakin indah dan manis
****
Gunakan pemoles pipi anda dengan kosmetik alami yang terbuat dari rasa malu yang dijual di salon IMAN
****
Bedakilah wajahmu dengan air wudhu agar selalu bersih dan halus di hari kiamat
****
Rawatlah gigimu dengan makanan yang halal, pastikan lebih bersih dan cemerlang
****

Pakailah sabun istigfhar untuk menghilangkan dosa-dosa dari semua kesalahan yang telah anda lakukan
****
Rawatlah rambut anda dengan Jilbab Islami yang akan menghilangkan semua dosa dari pandangan orang laki-laki yang membahayakan
****
Cucilah hatimu dengan Simpati Al Qur'an yang dapat menumbuhkan Wibawa yang Simpatik
****
Pakailah Giwang kesopanan pada kedua telinga anda
****
Hiasilah tanganmu dengan Gelang dan Dermawan
****
Tutupilah dadamu dengan tutup kesabaran dengar istiqomah maka akan tenang Jiwamu
****
Kencangkanlah ikat pinggangmu dengan puasa sunah agar kelihatan langsing dan menawan
****
Tampilan dengan langkah sopan yang penuh keyakinan maka kau akan temui keagungan yang disegani
****
Tambahkanlah pakaianmu dengan tobat dan nasehat agar terlunta di hari kiamat

Gadis Kecil dengan Seorang Kyai






Suatu ketika saat Kyai Hasan sedang duduk-duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ada jenazah seorang laki-laki yang melintas menuju ke tempat pemakaman. Terlihat olehnya dibelakang jenazah itu seorang gadis kecil beserta para pengiring yang lain. Rambut gadis kecil itu tergerai dan tidak henti-hentinya ia menangis. Segera saja Kyai Hasan membuntuti iring-iringan jenazah tersebut dan mendekati gadis kecil yang masih menangis tak henti-hentinya.


Tatkala sudah dekat dengan gadis kecil itu, Kyai Hasan mendengar dengan jelas rintihannya, “Wahai ayah, belum pernah selama hidupku aku mengalami perasaan sedih seperti yang kualami sekarang ini”.

“Nak, belum pernah juga ayahmu mengalami kejadian yang menyusahkan seperti sekarang ini” sahut Kyai Hasan.

Setelah tiba di sebuah musholla, jenazah itu pun segera disholati dan kemudian dimakamkan. Usai acara pemakaman para pengantar pun segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Esok harinya setelah menjalankan shalat subuh Kyai Hasan kembali duduk-duduk santai di depan rumah. Namun selang beberapa lama kemudian, ia melihat seorang gadis kecil yang melintas depan rumahnya. Rupanya, ia adalah gadis yang kemarin ditinggal mati oleh ayahnya. Gadis kecil itu rupa-rupanya berjalan menuju tempat pemakaman.

Merasa ada gelagat yang kurang baik, segera Kyai Hasan mengikutinya dari kejauhan. Beliau ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikerjakan gadis kecil itu. Saat gadis kecil itu memasuki makam, Kyai Hasan mengintip dari tempat yang tersembunyi.

Tiba-tiba gadis itu memeluk nisan dan pipinya ditaruh diatas makam ayahnya, seraya berkata,

“Wahai ayah, bagaimana tadi malam engkau menginap. Kemarin lusa aku masih mempersiapkan alas tidur untukmu. Lalu siapakah yang mempersiapkan alas tidurmu tadi malam?

Kemarin lusa aku masih mempersiapkan lampu untuk menerangimu. Lalu siapakah gerangan yang mempersiapkan lampu untuk menerangimu tadi malam?

Wahai ayah, ketika badanmu terasa pegal-pegal, seringkali aku memijat badanmu. Lalu siapa lagi sekarang yang akan memijat-mijatmu?”

“Wahai ayah” rintihnya kemudian, “Ketika engkau merasa haus, dengan segera aku mengambilkan minuman untukmu. Namun siapakah yang mengambilkan engkau minuman tadi malam?

Ketika engkau merasa jemu dan penat tidur telentang, maka segera aku balikkan engkau agar nyaman. Namun siapakah tadi malam yang mau membalik tubuhmu agar nyaman?”

“Dengan perasaan belas kasih, kemarin aku masih memandangi wajahmu. Tapi sekarang siapa lagi yang akan memandangi wajahmu seperti itu? Saat engkau memerlukan sesuatu, engkau segera memanggilku. Tapi bagaimana dengan malam tadi, siapa yang engkau panggil? Bahkan kemarin lusa aku masih memasakkan makanan untukmu. Tapi masihkah engkau juga menginginkannya dan siapa yang akan menyiapkan makanan untukmu?”

Kyai Hasan tak sanggup lagi membendung air matanya saat mendengar rintihan gadis kecil itu. Air matanya berderai dengan derasnya membasahi pipinya. Ia langsung keluar dari persembunyiannya. “Janganlah engkau mengucapkan kata-kata seperti itu, Nak..” Hibur Kyai Hasan sambil mengusap rambut gadis kecil itu. “Namun katakanlah, “Wahai ayah, kemarin engkau masih menghadapkan wajahmu ke arah kiblat. Lalu masihkah kini wajahmu menghadap ke kiblat ataukah telah berpaling darinya? Wahai ayah, saat tubuhmu diletakkan di liang kubur masih tampak utuh. Masihkah sekarang keadaanmu seperti itu ataukah sudah habis dimakan ulat?”

“Ucapkan pula, Nak.. Para ulama mengatakan bahwa seseorang yang sudah mati itu pasti akan ditanyai tentang keimanannya. Diantara mereka ada yang bisa menjawab dengan benar tapi ada juga yang tidak bisa menjawabnya sama sekali. Adakah ayah termasuk diantara mereka yang bisa menjawabnya?”

“Mereka juga menjelaskan bahwa sebagian jenazah itu ada yang dijepit oleh liang kuburnya sendiri hingga tulang rusuknya hancur berantakan, tapi adakalanya yang merasa liang kuburnya sangat luas sekali. Lalu bagaimana dengan keadaan kubur ayah sekarang ini?”

“Begitu juga ada keterangan yang menyebutkan bahwa kubur itu acapkali diganti dengan taman-taman surga. Tapi adakalanya yang diubah menjadi jurang neraka. Lalu bagaimana dengan kubur ayah sekarang?”

“Keterangan lain yang dikatakan para ulama adalah bahwa kubur itu acapkali memeluk penghuninya sebagaimana seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi adakalanya yang mendapat marah dari kuburnya hingga menjepit sampai tulang belulangnya berserakan. Adakah kubur ayah sekarang marah ataukah sebaliknya, memeluk ayah dengan kasih sayang?”

“Demikian juga bahwa para ulama telah menjelaskan, ketika seseorang telah memasuki kuburnya, maka bila dia sebagai orang yang bertakwa, ia akan menyesal karena merasa ketakwaannya belum seberapa. Begitu juga dengan orang yang durhaka, mereka akan menyesal karena semasa hidupnya tidak mau berbuat kebajikan. Lantas apakah ayah tergolong mereka yang menyesal karena tidak pernah berbuat kebajikan ataukah mereka yang menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa?”

“Wahai ayah, cukup lama aku memanggilmu, tapi engkau tidak menjawab sedikitpun panggilanku. Ya Allah…Janganlah kiranya Engkau menghalangi pertemuanku dengan ayah di akhirat kelak..”

Usai Kyai Hasan mengajari seperti itu, gadis kecil tersebut menolehkan kepalanya seraya berkata, “Kalimat-kalimat yang engkau ajarkan itu sungguh menyejukkan hatiku. Sehingga hatiku sekarang merasa lebih tenteram dan memalingkan aku dari kelalaian.”

Melihat gadis kecil itu sudah tenang hatinya, segera saja Kyai Hasan mengantarnya pulang.